Sabtu, 24 November 2018

Audit Teknologi Informasi (Tugas-2)

Link : https://drive.google.com/open?id=1dYfNtvX9wNIPl0hsEhRjVc_xJpJaZ2MX

AUDIT SISTEM INFORMASI
Audit Through The Computer dan Audit With The Computer

Metode audit yang sering digunakan oleh auditor adalah Audit around the computer, Audit through the computer, dan Audit With The Computer. Namun, pada tugas kali ini kami hanya akan menjelaskan tentang Audit through the computer dan Audit Around the computer saja.

Audit through the computer
Audit around the computer

Pengertian Secara Umum
Pendekatan yang berorientasi pada computer dengan membuka black box & secara langsung berfokus pada operasi pemprosesan dalam sistem computer
Pendekatan audit dimana auditor memperlakukan computer sebagai black box, artinya pemrosesan aplikasi tidak diuji secara langsung
Pengertian Menurut Weber
Auditor menggunakan komputer untuk menguji logic dan pengendalian yang ada dalam komputer dan catatan yang dihasilkan oleh komputer
Audit terhadap suatu penyelenggaraan system informasi yang berbasis computer tanpa menggunakan kemampuan peralatan itu sendiri
Asumsi
Metode ini berasumsi bahwa apabila system pemrosesan mempunyai pengendalian yang memadai maka kesalahan dan penyalagunaan tidak akan terlewat untuk dideteksi. Sebagai akibatnya keluaran dapat diterima.
Metode ini hanya berfokus pada input dan output dari system aplikasi. Metode ini mengansumsikan jika input benar dan outpun benar, maka prosesnya dianggap benar.
Cocok Dalam Kondisi
1. Sistem aplikasi memroses input yang cukup besar dan menghasilkan output yang cukup besar pula, sehingga memperluas audit untuk meneliti keabsahannya.
2. Bagian penting dari struktur pengendalian intern perusahaan terdapat di dalam komputer yang digunakan.
3. Sistem logika komputer sangat kompleks dan memiliki banyak fasilitas pendukung
4. Adanya jurang yang besar dalam melaksanakan audit secara visual, sehingga memerlukan pertimbangan antara biaya dan manfaatnya.

1. Dokumen sumber tersedia dalam bentuk kertas (bahasa non mesin), artinya mash kasat mata dan dapat dilihat secara visual.
2. Dokumen-dokumen disimpan dalam file dengan cara yang mudah ditemukan.
3. Keluaran dapat diperoleh dari daftar yang terinci dan auditor mudah menelusuri setiap transaksi dari dokumen sumber kepada keluaran dan sebaliknya.
4. System computer yang diterapkan masih sederhana.
5. System computer yang diterapkan masih menggunakan software yang umum digunakan, telah diakui dan digunakan secara massal.
Kelebihan

1. Dapat meningkatkan kekuatan pengujian system aplikasi secara efektif.
2. Dapat memeriksa secara langsung logika pemrosesan dari system aplikasi.
3. Kemampuan system dapat menangani perubahan dan kemungkinan kehilangan yang terjadi pada masa yang akan datang.
4. Auditor memperoleh kemampuan yang besar dan efektif dalam melakukan pengujian terhadap system computer.
5. Auditor merasa lebih yakin terhadap kebenaran hasil kerjanya.
1. Cara paling efektif dengan pendekatan biaya. Karena biaya yang terkait dalam pelaksanaannya kecil.
2. Pelaksanaan audit lebih sederhana, lebih mudah dan dimengerti oleh semua orang.
3. Auditor yang memiliki pengetahuan minimal di bidang computer dapat dilatih dengan mudah untuk melaksanakan audit.
4. Tidak ada resiko terhadap kemungkinan hancurnya data sesungguhnya.
Kelemahan
1. Biaya yang dibutuhkan relative tinggi karena jumlah jam kerja yang banyak untuk dapat lebih memahami struktur pengendalian intern dari pelaksanaan system aplikasi.
2. Butuh keahlian teknis yang lebih mendalam untuk memahami cara kerja system.
1. Jenis aplikasi computer yang digunakan dengan baik sangat terbatas.
2. Pendekatan ini tidak memberikan informasi tentang kemampuan system untuk mengatasi perubahan.
3. Jika lingkungan berubah maka kemungkinan system itupun akan berubah dan perlu penyesuaian system atau program-programnya, bahkan mungkin struktur data/file, sehigga auditor tidak dapat menilai /menelaah apakah system masih berjalan baik.
4. Database biasanya dalam jumlah data yang banyak dan sulit untuk dilacak secara manual.
5. Auditor tidak akan memahami operasional didalam system computer.
6. Adanya pengabaian pada system pengolahan computer sehingga rawan adanya kesalahan potensial di dalam system.
7. Kemampuan computer sebagai fasilitas penunjang pelaksanaan audit menjadi tidak ada.
8. Tidak menyelesaikan maksud dan tujuan proses audit secara keseluruhan.



AUDIT TATA KELOLA TEKNOLOGI INFORMASI MENGGUNAKAN FRAMEWORK COBIT 5 (STUDI KASUS: BALAI BESAR PERIKANAN BUDIDAYA LAUT LAMPUNG)

Dengan semakin berkembangnya teknologi, khususnya teknologi informasi dan komputer, maka banyak perusahaan yang mengadopsi sistem informasi berbasis komputer sebagai bagian penting dari kelancaran kegiatan operasi perusahaan tidak terkecuali pemerintahan. Balai Besar Perikanan Budidaya Laut Lampung merupakan salah satu balai yang telah menerapkan teknologi informasi (TI) dalam bidang Sasaran Kinerja Pegawai (SKP) yaitu dengan menggunakan sistem e-SKP (elektronik Sasaran Kinerja Pegawai). Saat ini kegiatan tata kelola keamanan informasi belum dilakukan secara maksimal. Untuk mengantisipasi terjadinya kendala seperti sumber daya manusia yang kurang memahami aplikasi e-SKP sehingga berpotensi terjadinya error pada aplikasi, kemudian e-SKP masih menghadapi persoalan berkaitan dengan sering terjadi kehilangan data e-SKP dan belum ada solusi terkait masalah kehilangan data tersebut, maka perlu adanya audit tata kelola keamanan informasi untuk peningkatan keamanan data dan informasi pada Balai Besar Perikanan Budidaya Laut Lampung khususnya pada sistem e-SKP.
Dalam bidang tata kelola teknologi informasi, terdapat sebuah kerangka kerja COBIT untuk mengukur kematangan pemanfaatan IT di sebuah organisasi. Kerangka COBIT 5 membagi proses teknologi informasi menjadi 5 domain, yaitu EDM (Evaluate, Direct and Monitor), APO (Align, Plan and Organise), BAI (Build, Acquire and Implement), DSS (Deliver, Service, and Support), MEA (Monitor, Evaluate and Assess) dengan keseluruhan 37 proses yang ada didalamnya. COBIT berfungsi untuk mempertemukan semua kebutuhan control dan isu-isu teknik, selain itu COBIT juga dirancang menjadi alat bantu untuk memecahkan permasalahan pada IT Governance dalam memahami dan mengelola resiko serta keuntungan yang berhubungan dengan sumber daya informasi.[14]. Dengan dilakukannya audit tata kelola keamanan informasi menggunakan framework COBIT 5 akan memberikan informasi kepada Balai Besar Perikanan Budidaya Laut Lampung mengenai hasil analisis yang akan digunakan untuk melakukan peningkatan terhadap sistem e-SKP (Elektronik Sasaran Kinerja Pegawai).
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengaudit keamanan informasi pada sistem e-SKP dengan menggunakan framework COBIT 5 dengan domain Evaluate Direct and Monitor (EDM), Align Plan and Organise (APO), Build Acquire and Implement (BAI), Deliver Service and Support (DSS), dan Monitor Evaluate and Assure (MEA) guna mengetahui tingkat keamanan informasi pada sistem e-SKP di Balai Besar Perikanan Budidaya Laut Lampung. Selain itu dilakukan pengujian terhadap sistem menggunakan aplikasi Nessus Scanner dan Apache Jmeter.

O    Tentukan obyek audit yang akan dilakukan
Obyek audit yang akan digunakan adalah pada studi kasus audit sistem informasi. menggunakan COBIT 5.1. Metode objek audit yang digunakan dalam kasus ini adalah Audit Around The Computer, karena kami tidak menguji langkah-langkah proses secara langsung tetapi membandingkan input dan output dari sistem.

A.     COBIT (Control Objective for Information and Related Technology)
COBIT merupakan cara atau metode yang dapat ditempuh untuk dapat menganalisa, mengembangkan, mempublikasikan, dan mempromosikan suatu otorisasi. COBIT ini dapat membuat up-to-date suatu sistem perusahaan serta dapat diterima oleh tata kelola TI profesional. Tata kelola TI yang dikontrol dibawah naungan COBIT merupakan tata kelola TI bertaraf internasional. Menurut IT Governance Institute COBIT (Control Objective for Information and Related Technology) adalah sekumpulan dokumentasi best practices untuk IT Governance yang dapat membantu auditor, manajemen, dan pengguna (user) untuk menjembatani gap antara resiko bisnis, kebutuhan kontrol dan permasalahan teknis.
COBIT berorientasi pada bagaimana menghubungkan tujuan bisnis dengan tujuan TI, menyediakan metric dan maturity model untuk mengukur pencapaiannya, dan mengidentifikasi tanggung jawab terkait bisnis dan pemilik proses TI. Penilaian capability process berdasarkan maturity model COBIT merupakan bagian penting dari implementasi IT Governance setelah mengidentifikasi proses kritis TI dan pengendaliannya, maturity modeling memungkinkan gap teridentifikasi dan ditujukan pada manajemen. Dengan mengetahui gap tersebut maka selanjutnya rencana kerja dapat dikembangkan untuk membawa proses ini sampai dengan sasaran capability level yang diharapkan. Dengan demikian, COBIT mendukung pengelolaan TI dengan menyediakan kerangka untuk memastikan bahwa :
1. TI berjalan dengan bisnis
2. TI memungkinkan bisnis dan memakismalkan keuntungan
3. Sumber daya TI digunakan secara bertanggung jawab
4. Risiko TI dikelola dengan tepat

B.     Fungsi COBIT
COBIT memiliki fungsi antara lain :
1.      Meningkatkan pendekatan/program audit.
2.      Mendukung audit kerja dengan arahan audit secara rinci
3.      Memberikan petunjuk untuk IT governance.
4.      Sebagai penilaian benchmark untuk kendali Sistem Informasi/Teknologi Informasi.
5.      Meningkatkan kontrol Sistem Informasi/Teknologi Informasi.
6.      Sebagai standarisasi pendekatan/program audit.

COBIT menyediakan langkah-langkah praktis terbaik yang dapat diambil dan lebih difokuskan pada pengendalian (control), yang selanjutnya dijelaskan dalam tahap dan framework proses. Manfaat dari langkah-langkah praktis terbaik yang dapat diambil tersebut antara lain :
1.      Membantu mengoptimalkan investasi teknologi informasi yang mungkin dapat dilakukan.
2.      Menjamin pengiriman service.
3.      Framework COBIT menggambarkan antara business dan aplikasi yang ditunjukkan pada gambar 2 Boundaries of General and Application Controls.

C.     Kelebihan Metode COBIT
Pemilihan kerangka kerja dengan metode COBIT dikarenakan mempunyai beberapa kelebihan diantaranya:
1.      Memiliki konsep yang searah dengan pengelolaan perusahaan.
2.      Memiliki definisi yang lengkap, rinci dan terarah untuk pengelolaan sebuah perusahaan.
3.      Memiliki konsep hubungan kausal yang erat, sehingga mudah untuk mengarahkan perusahaan, dari sasaran teknis ke strategis dan sebaliknya serta mampu menelusuri masalah dari lingkup yang besar ke lingkup yang lebih detil.


D.     Stuktur COBIT
Struktur COBIT terdiri dari Excetive Summary, yang didukung dengan perangkat implementasi, kemudian framework yang dijabarkan menjadi 3 bagian yaitu Management Guidelines, Audit Guidelines, Detailed Control Objectives. Untuk Management Guidelines terdapat 4 indikator pengukuran yaitu Maturity Models, Control Success Faktor, Key Goal Indicators, dan Key Performance Indicators. Sedangkan Detailed Control Objectives dijabarkan dalam beberapa Control Practice.

E.     Kerangka Kerja COBIT
Kerangka kerja COBIT yang memberikan model referensi proses untuk dapat mengamati dan mengelola aktivitas TI, serta kerangka kerja untuk mengukur dan memonitor kinerja TI, berkomunikasi dengan penyedia layanan dan memadukan praktek-praktek manajemen terbaik. Sebuah model proses mendorong kepemilikan prses, memungkinkantanggung jawab dan akuntabilitas untuk didefinisikan.
Secara keseluruhan kerangka kerja COBIT dengan model proses COBIT terdiri dari 4 domain yaitu :
1.      Planning and Organizing (PO), domain ini mencakup level strategis dan taktis, dan konsennya pada identifikasi cara TI yang dapat menambah pencapaian terbaik tujuan-tujuan bisnis.
2.      Acquisition and Implementation (AI), solusi TI yang perlu diidentifikasikan, dikembangkan atau diperlukan, serta diimplementasikan dan diintegrasikan dalam proses bisnis.selain itu perubahan sistem dan pemeliharaannya dilindungi untuk memastikan solusi TI memenuhi tujuan bisnis.
3.      Deliver and Support (DS), domain ini menyangkut pencapaian aktual dari layanan yang diperlukan dengan menyusun operasi tradisional terhadap keamanan dan aspek kontinuitas sampai pada pelatihan. Domain ini termasuk data aktual melalui sistem aplikasi, yang sering diklasifikasikan dalam pengendalian aplikasi.
4.      Monitor and Evaluate (ME), semua proses TI perlu dinilai secara teratur atas suatu waktu untuk kualitas dan pemenuhan kebutuhan pengendalian. Domain ini mengarahkan kesalahan manajemen pada proses pengendalian organisasi dan penjaminan independen yang disediakan oleh audit internal dan eksternal atau diperoleh dari sumber alternatif.

Keempat domain tersebut diatas kemudian dijabarkan menjadi 34 faktor resiko yang harus dievaluasi jika ingin diperoleh suatu kesimpulan mengenai seberapa besar kepedulian manajemen terhadap teknologi informasi, serta bagaimana teknologi informasi dapat memenuhi kebutuhan manajemen akan informasi. Keempat Domain tersebut dapat pula digambarkan dalam bentuk gambar dibawah ini yang juga terdapat 34 High level objectives dan 6 Publikasi.


Gambar 1. Kerangka Kerja COBIT

F.     Skala Maturity dari Kerangka Kerja COBIT
Maturity model adalah suatu metode untuk mengukur level pengembangan manajemen proses, yang berarti adalah mengukur sejauh mana kapabilitas manajemen tersebut. Seberapa bagusnya pengembangan atau kapabilitas manajemen tergantung pada tercapainya tujuan-tujuan COBIT yang. Sebagai contoh adalah ada beberapa proses dan sistem kritikal yang membutuhkan manajemen keamanan yang lebih ketat dibanding proses dan sistem lain yang tidak begitu kritikal. Di sisi lain, derajat dan kepuasan pengendalian yang dibutuhkan untuk diaplikasikan pada suatu proses adalah didorong pada selera resiko Enterprise dan kebutuhan kepatuhan yang diterapkan.
Penerapan yang tepat pada tata kelola TI di suatu lingkungan Enterprise, tergantung pada pencapaian tiga aspek maturity (kemampuan, jangkauan dan kontrol). Peningkatan maturity akan mengurangi resiko dan meningkatkan efisiensi, mendorong berkurangnya kesalahan dan meningkatkan kuantitas proses yang dapat diperkirakan kualitasnya dan mendorong efisiensi biaya terkait dengan penggunaan sumber daya TI.
Maturity model dapat digunakan untuk memetakan :
1.      Status pengelolaan TI perusahaan pada saat itu.
2.      Status standart industri dalam bidang TI saat ini (sebagai pembanding)
3.      Status standart internasional dalam bidang TI saat ini (sebagai pembanding)
4.     Strategi pengelolaan TI perusahaan (ekspetasi perusahaan terhadap posisi pengelolaan TI perusahaan)

O    Rencana Audit yang Dilakukan
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengaudit keamanan informasi pada sistem e-SKP dengan menggunakan framework COBIT 5 dengan domain Evaluate Direct and Monitor (EDM), Align Plan and Organise (APO), Build Acquire and Implement (BAI), Deliver Service and Support (DSS), dan Monitor Evaluate and Assure (MEA) guna mengetahui tingkat keamanan informasi pada sistem e-SKP di Balai Besar Perikanan Budidaya Laut Lampung. Selain itu dilakukan pengujian terhadap sistem menggunakan aplikasi Nessus Scanner dan Apache Jmeter.
Rencana audit yang akan kami lakukan adalah Melakukan studi kepustakaan, Melakukan perencanaan pemeriksaan, Melakukan penelitianan pendahuluan, elakukan identifikasi dan analisis masalah, Melakukan pelaksanan pemeriksaan, dan Membuat laporan hasil pemeriksaan dimana kami akan menjabarkan temuan audit.
1.      Melakukan studi kepustakaan, yaitu pembelajaran mengenai audit sistem informasi, khususnya mengenai metode audit COBIT 5.1, yang mencakup Plan and Organise, Acquire and Implement, Deliver and Support, dan Monitor and Evaluate.
2.      Melakukan perencanaan pemeriksaan, yaitu melakukan observasi awal; merumuskan masalah yang akan diteliti; dan mengajukan permohonan penelitian kepada pihak terkait.
3.      Melakukan penelitian pendahuluan, yaitu merumuskan program audit yang akan dijalankan.
4.      Melakukan identifikasi dan analisis masalah, yaitu menganalisa efektivitas pelaksanaan pengendalian aplikasi.
5.      Melakukan pelaksanan pemeriksaan, yaitu dengan mengajukan kuesioner; melakukan wawancara, observasi lapangan, dan dokumentasi; melakukan evaluasi atas penerapan pengendalian aplikasi tersebut.
6.      Membuat laporan hasil pemeriksaan dimana kami akan menjabarkan temuan audit, memberikan rekomendasi dan saran-saran perbaikan, serta menyimpulkan hasil penelitian.

O    Susun Instrumen Audit yang akan Digunakan
Pada tahapan ini kami melaksanakan program audit dengan mengumpulkan bukti-bukti. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah metode penelitian lapangan, yang dilakukan dengan cara mendatangi langsung obyek yang akan diteliti untuk memperoleh data primer. Sehubungan untuk mendapat data sekunder yang berhubungan dengan masalah yang menjadi obyek penelitian, maka Instrumen audit yang akan kami gunakan adalah :
1.      Dokumentasi
2.      Observasi
3.      Komunikasi dengan Wawancara dan Kuesioner


Petunjuk Penggunaan Instrumen Audit yang Akan Digunakan
Berikut ini adalah petunjuk instrumen audit yang akan kami gunakan :

1.      Dokumentasi
Upaya mendapatkan informasi, kami mengumpulkan data tertulis atau dokumen-dokumen dari perusahaan, yaitu bagan struktur organisasi, uraian tugas serta tanggung jawab, jenis software yang digunakan, printscreen dari software yang digunakan, serta dokumen lain yang berkaitan dengan penerapan sistem.

2.      Observasi
Kami melakukan observasi langsung terhadap perikanan yang berhubungan dengan sistem aplikasi. Pengamatan yang dilakukan adalah sebagai berikut:

a.      Analisis catatan (record analysis), meliputi catatan historis atau masa kini dan catatan umum atau pribadi, berupa tertulis, dalam bentuk print-out.
b.      Analisis kondisi fisik (physical condition analysis), analisis kondisi fisik dari obyek yang diteliti, menganalisa hardware yang digunakan oleh balai besar
c.      Analisis proses atau aktivitas (process or activity analysis), kami menganalisa aktivitas pelaksanaan input dan output yang dihasilkan serta aktivitas pengendalian aplikasi terhadap proses tersebut. Aktivitas ini menggunakan pendekatan auditing around the computer, suatu pendekatan dengan memperlakukan komputer sebagai black box. Kami tidak menguji langkah-langkah proses secara langsung tetapi membandingkan input dan output dari sistem. Diasumsikan bahwa jika input benar akan diwujudkan pada output, sehingga pemrosesannya juga benar dan tidak melakukan pengecekan terhadap pemrosesan komputer secara langsung.

3.      Komunikasi dengan Wawancara dan Kuesioner.
Wawancara yang dilakukan yaitu wawancara secara personal kepada pihak manajerial TI, dan wawancara yang dilakukan dengan cara menyebarkan kuesioner. Pembuatan kuesioner menggunakan pendekatan COBIT 5.1. 
Setelah melakukan penyebaran kuisioner dilakukan mapping / pengidentifikasian pertanyaan tiaptiap proses TI. Hal ini bertujuan agar informasi tiap-tiap proses TI COBIT dapat terpenuhi. Penyebaran kuesioner berjumlah 5 responden yang tersebar di divisi TI sebanyak 1 responden, divisi Finance sebanyak 1 responden, divisi Sales sebanyak 1 responden, divisi Warehouse sebanyak 1 responden, dan divisi Purchasing sebanyak 1 responden, maka didapatkan jawaban yang sama untuk pertanyaan ya dan tidak, dengan komentar yang sedikit berbeda untuk setiap responden.
Kuesioner memiliki 2 jenis yaitu kuesioner untuk TI dan kuesioner untuk non-TI. Kuesioner untuk TI terdiri dari 88 pertanyaan, yaitu 11 pertanyaan kuesioner pengendalian umum (General Controls), 17 pertanyaan pengendalian batasan (Boundary Controls), 12 pertanyaan pengendalian masukan (Input Controls), 10 pertanyaan pengendalian proses (Process Controls), 4 pertanyaan pengendalian keluaran (Output Controls), 17 pertanyaan pengendalian basisdata (Database Controls), 12 pertanyaan pengendalian komunikasi aplikasi (Application Communication Controls), dan 5 pertanyaan pengendalian sistem operasi (Operating System Controls).
Sedangkan kuesioner untuk non-TI terdiri dari 65 pertanyaan, yaitu 8 pertanyaan kuesioner pengendalian umum (General Controls), 12 pertanyaan pengendalian batasan (Boundary Controls), 22 pertanyaan pengendalian masukan (Input Controls), 8 pertanyaan pengendalian proses (Process Controls), 14 pertanyaan pengendalian keluaran (Output Controls), dan 1 pertanyaan pengendalian komunikasi aplikasi (Application Communication Controls).

O    Kesimpulan Hasil Audit
Setelah melakukan tahap mengumpulkan bukti-bukti berupa hasil wawancara, observasi, dan kuesioner yang kemudian dievaluasi, maka dikumpulkan hasil temuan-temuan audit sebagai berikut:

-        Tidak digunakan Uninteruptable Power Supply (UPS) yang mampu menstabilkan tegangan listrik pada tiap-tiap komputer yang ada.
-        Tidak terdapat dry-pipe automatic sprinkler hanya terdapat tabung pemadam kebakaran.
-        Tidak terdapat alat untuk menutup hardware dengan bahan tahan air dan udara sewaktu tidak digunakan.
-        Tidak terdapat kontrol dalam hal membawa makanan dan minuman di dekat peralatan komputer.
-        Tidak terdapat Team Disaster Recovery Plan yang bertugas menangani kerusakan oleh bencana.
-        Tidak ada perencanaan ataupun penganggaran khusus berkenaan dengan tim pemulihan bencana.
-        Tidak terdapat perubahan warna pada interface, jika terjadi kesalahan penginputan.
-        Sistem tidak mampu mencegah atau mendeteksi kehilangan data selama pemrosesan.
-        Sistem aplikasi tidak membatasi sistem umur password.
-        Tidak ada penggabungan huruf kecil, besar, simbol, dan angka pada password.
-        Sistem aplikasi tidak membatasi kegagalan login akses.
-        Kesalahan yang telah terlanjur diinput tidak dapat di-edit / diperbaiki.
-        Respon sistem aplikasi di setiap penginputan memakan waktu cukup lama.
-        Tidak terdapat log activity pada sistem aplikasi.
-        Tidak terdapat pemberian dan pengakhiran akses pengguna ke basis data.
-        Tidak terdapat kerangka kerja khusus untuk proyek TI, monitoring hanya dilakukan ad hoc oleh ketua team proyek. 
Referensi :


Tidak ada komentar:

Posting Komentar